Malam ini senyum-senyum sendiri dengar celotehan mama dan bapak. Jadi kan saya anak sulung. Mama sering mengeluh sakit sedangkan bapak sudah malas menghadiri acara keluarga. Jadinya saya selalu saja jadi wakil mereka diacara apapun. Dari yang awalnya, bagi saya acara seperti itu malesin. Tapi saking terbiasanya malah jadi kebiasaan dan suka malah. Jadi suka beli dress dan belajar makeup-an karena itu. Soalnya kan malu-maluin kalau sampai tampil biasa-biasa saja. Apalagi status anak gadis sudah melekat banget.
Datang ke acara resmi seperti mapettuada, mapacci, akad nikah, mapperola, resepsi dan aqiqahan sudah biasa banget. Ada suka dukanya sih. Sukanya sih yah bisa berpenampilan agak cantik dari biasanya yang kata nenek kalau lagi dirumah saya tampak seperti pembantu padahal kalau difoto cantik kok. Katanya. Bayangkan saja, ini nenek saya loh yang menilai penampilan cucunya seperti pembantu. Hanya gara-gara dirumah saya sukanya pakai celana pendek bergambar macam-macam plus kaos oblong (yang sudah digunting lengan, kerah dan bagian bawahnya). Wah tega kan. Dukanya yah palingan kalau ke acara resmi gitu, berasa jadi orang asing. Gak ada yang ngenalin. Jadi biasanya kalau kekondangan saya hanya maju salim-salim, makan dan pulang. Kosong banget pemirsa. Kalau acaranya dari deket rumah sih lumayan, biasanya saya pergi sama tante sebelah rumah atau anaknya. Keseringan sama si tante sih. Minimal ada teman ngobrol. Kalau acaranya tingkat keluarga yah saya perginya bareng sepupu satu kali saya yang sudah berkeluarga dan berekor. Nah ini nih yang lucu.

